Umur merupakan satuan yang digunakan untuk mengukur lamanya keberadaan suatu makhluk atau benda, hidup atau mati. Selain itu, pada kehidupan sosial masyarakat umur juga kadang di jadikan standar untuk mengukur pencapaian dalam kehidupan. Misalnya standar umum yang ada di masyarakat, seperti umur 7 tahun masuk SD, 14 tahun masuk SMP, 18 Tahun lulus SMA, 23 Tahun lulus kuliah, 25 Tahun menikah, 30 tahun finansial freedom dan seterusnya. Jika kita menggunakan perspektif orang-orang normal pada umumnya, standar itu tentu sangat baik dalam menentukan arah hidup. Namun, tentu terdapat beberapa individu yang tidak nomal dalam menjalani kehidupannya. Dimana setiap dari mereka hidup dengan cerita sulitnya, terutama yang menginjak umur 25 tahun. Cukup banyak orang-orang di sekitar saya mulai merasa bingung dengan kehidupannya dan tentu saya satu diantaranya. Bisa jadi hal tersebut pengaruh dari masa transisi dari usia muda ke dewasa. Pendewasaan secara singnifikan menghantam mental individu di umur tersebut. Kita akan di paksa untuk memantapkan karir, hubungan dengan pasangan maupun relasi kerja, atau tujuan yang ingin di capai kedepannya. Sekarang saat saya menulis ini, orang-orang menyebutnya “quarter-life crisis”.
Apakah kamu pernah berfikir jika hidup seakan monoton, terus berulang tanpa tau ujungnya dimana? atau mulai kehilangan arah dengan kegagalan rencana hidup yang sudah di rencanakan ?. Kita sudah berencana, berjuang lalu realita menghadiahkan kegagalan. Lalu muncul kalimat menenangkan, “berarti tuhan menunjukkan jalan yang lebih baik”, atau “rejeki sudah di atur”. Cukup menyebalkan untuk menerima kalimat itu, namun begitulah realitanya. Meresapi kalimat itu sebagai penenang walau tau itu hanyalah kalimat saja seperti tidak punya pengaruhnya, malah menjengkelkan. Saya juga merasakannya, logika menyangkal kalimat tersebut.
Lalu apa?
Saya membunuh logika dan mengedepankan iman. Logika tidak lebih tinggi dari iman karena hidup adalah keyakinan. Pada titik ini konsep penghambaan memberi peran krusial dalam kehidupan seseorang. Berserah diri memberi efek rehabilitasi mental yang sangat ampuh, selain itu juga menjadi batu loncatan seseorang meningkatkan kualitas ibadah dan hidupnya. Menurut saya.
Ketika saya menulis ini, saya sudah melewati 25 tahun. Titik dimana saya menghitung langkah yang telah di lalui, lalu menerima fakta harus menikah dan memenuhi kebutuhan hidup seperti kendaraan dan rumah. Bisa saja memilih untuk tidak menikah dan slow living seperti sekarang dengan penghasilan bersih setelah di potong itu ini 2 1/2 juta rupiah. Tapi tentu, saya tidak memilih itu. Menikah sudah saya letakkan dalam rencana hidup. Lalu sebagai lelaki, saya hidup untuk berusaha dan berjuang. Jadi itu pilihan yang saya ambil bukan untuk di keluhkan tapi di usahakan, nah disini masalahnya. Kebingungan muncul, bagaimana caranya dengan penghasilan 2 1/2 juta perbulan bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Jika bicara yang normal-normal saja, menikah setidaknya membutuhkan 30 juta untuk pernikahan sederhana, maka perlu 12 bulan untuk terkumpul.
Masalahnya itu setelahnya, apakah ada yang mau dengan saya ?
Rasa tidak percaya diri mulai tumbuh subur bahkan tanpa di pupuk. Saya merasa tidak layak untuk siapapun dengan hasil ukuran yang saya buat sendiri tanpa bertanya dengan lingkungan. Kesimpulannya saya anggap konkrit dan menjadi landasan. Selain itu, terlalu sering gagal membuat hasrat untuk berjuang menjadi lemah. kehidupan yang mulai memberi rasa nyaman dengan rutinitas yang konstan seakan menghanyutkan dengan arusnya untuk di nikmati dan membuat lupa jika kapan saja kita bisa terhempas. Membuat lupa untuk berencana kedepannya, baik rencana hidup atau rencana mengatasi hal buruk (layoff contohnya).
Dua 5-nya orang-orang bisa saja berbeda, bisa jadi mereka sudah menikah, sudah punya uang ber M-M atau ada juga yang sudah berjodoh dengan ajal. Kita di ciptakan beragam, dengan kekurangan masing-masing baik disukai atau tidak, itulah kenyataannya. Jika ditanya saya bagaimana ? apakah normal atau juga punya kekurangan ? apakah sudah berhasil dengan tujuan hidupnya ? . Okelah jika kamu memaksa saya akan jawab.
Detik ini, saat tulisan ini dibuat. Saya sudah termasuk ke dalam kelompok ekonomi menengah. Penghasilan sudah stabil. Ini pencapaian terbesar dalam hidup saya. Tentu bagi saya dengan segala sukur. Mengapa terbesar ? karena sebelumnya saya hanya berdoa untuk bisa mendapatkan uang 2 juta perbulan saja agar bisa ngopi tiap hari dan itu sudah terwujud, bahkan sedikit lebih.
Jika ditanya siapa yang berperan dalam hidup saya ?
Tentu yang pertama orang tua, terutama bapak saya. Saya belajar bagaimana berusaha tanpa menjadikan hambatan sebagai alasan untuk mengeluh. Seorang tunanetra yang dapat mengatur keluarganya dan menyekolahkan anaknya hingga sarjana. Beliau tidak hanya menasihati tapi juga mencontohkan bagaimana menyelesaikan masalah tanpa menjadikan batasannya sebagai beban. Tentu, saya yang menyebut berjuang sewaktu kuliah itu luntur tidak ada arti apa-apa dibanding perjuangannya. Namun satu hal yang mungkin tidak bisa ia lakukan, melihat wajah anak terakhirnya karena ia telah kehilangan penglihatannya sebelum anaknya lahir. Lalu teman-teman yang meminjamkan uang sewaktu kuliah untuk saya makan, semoga kalian selalu dalam kebaikan.
Proses saat ini , di Dua 5. Saya rasa tidak terlalu berat dan terkesan dinamika bebannya mulai perlahan turun. Berbanding terbalik dibandingkan sewaktu 20 menuju 25. Pada umur Dua 5, cenderung kita lebih keras berjuang melawan rasa was-was terhadap masadepan dan pikiran yang melayang tinggi diantara rasa takut.
Bagaimana saya melaluinya ?
Saya membuat banyak rencana untuk kedepannya dengan prioritas diantaranya. Telah habis rasanya takut untuk gagal, mungkin ini skill unik yang didapat dari proses kehidupan sebelumnya yang dipenuhi dengan kegagalan. Kita tidak tahu kedepannya akan bagaimana. Kita hanya di berikan akses untuk berusaha dan berjuang. Jika beragama ada tambahan berdoa.
Rencana yang besar namun tidak dapat didefinisikan langkah untuk mencapainya, hanya akan membebani kepala, jika kuat silahkan saja namun jika tidak ? Bicarakan dengan temanmu, bisa saja langkahnya ada di kepala temanmu. Bergaul kawan.
Sampai di akhir, begitulah Dua 5. Tidak begitu buruk namun cukup baik, kadang baik namun kadang tidak baik baik saja. Kembali lagi saya ingatkan, tulisan ini hanya perspektif saya memandang hidup. Bagaimana pikiran yang bergelantungan dan sayang rasanya tidak diabadikan. Jika memiliki komentar silahkan sampaikan, baik buruk saya senang untuk membacanya. Sampai bertemu dipikiran saya yang lain.