Tentang Kegelisahan
Kisah yang dimulai tentu akan diakhiri. Itulah hal yang terpikir saat ini. Umumnya kita memulai sesuatu dengan rasa takut, menjalani dengan gelisah, lalu menutup proses itu dengan akhir, baik yang diinginkan maupun yang tidak diinginkan. Proses selalu menemukan akhirnya, baik di tengah proses ataupun di akhir dari proses itu, begitupula dengan hidup.
Kehidupan itu berjalan, baik indah atau buruk, tergantung bagaimana memandangnya. Kita hidup berproses mengumpulkan informasi-informasi dan menjadikannya pengetahuan. Lalu, pengetahuan itu membentuk karakter ataupun menjadi landasan prinsip dalam hidup.
Pengetahuan akan terus terkumpul hingga hidup menemui akhirnya dan saya selalu membayangkan bagaimana saya akan menemui akhir dari kisah hidup ini sejak dulu.
Apakah kalian pernah berada di kondisi ketika hidup terasa akan berakhir?
Ketika suatu masalah datang, di situ mental yang akan bermain. Setiap individu punya kapasitas mental yang berbeda dalam bertahan menghadapi masalah. Pada batasnya, stres membentuk pikiran tentang akhir hidup. Begitu pula dengan yang saya rasakan. Saat saya menulis ini, kondisi saya sedang tidak terlalu sehat dan saya berada di posisi bingung serta bimbang harus bagaimana. Saya mulai sering batuk darah dan sudah sakit sekitar 5 bulan. Waktu yang lumayan lama untuk sebuah rasa sakit. Padahal sekarang saya sudah perlahan memperbaiki pola hidup, namun sakit itu tetap datang.
Teringat kenangan 7 tahun lalu, sakit yang saya rasakan mirip. Apakah kembali akan merasakannya? Apakah akan sembuh? Atau sakit ini datang untuk menjemput saya?
Ketika sakit, ternyata yang menyiksa itu bukan sensasi fisik yang menyiksa saraf, tetapi mental yang mulai goyah serta harapan hidup yang mulai runtuh. Saya sampai pada posisi di mana membohongi diri agar mental tetap terjaga sudah tidak berguna. Bayangkan saja, mau mengucapkan berapa kali aku sehat agar sugesti bekerja sementara darah berhamburan di tangan dan lantai.
Banyak hal yang terjadi dalam hidup membentuk hidup itu sendiri. Bagaimana proses mendewasakan hidup benar-benar terasa. Saya akhirnya masuk ke IGD selama beberapa hari. Pikiran mulai berhamburan dengan kegelisahan yang tidak ada ujungnya. Rasa takut yang selama ini terpikirkan perlahan terwujud satu per satu dan sampailah pada kesimpulan saya kembali menderita TB paru. Mental saya sedikit terguncang, pernahkah kalian memikirkan ketakutan-ketakutan lalu hal itu menjadi nyata? Itulah yang saya rasakan saat ini.
Mungkin Dampak Perjalanan Hidup
Banyaknya proses dan masalah yang telah dilewati membentuk pikiran dan polanya. Saya mendapatkan sakit yang sama dengan 7 tahun lalu, namun cara menyikapinya terasa sangat berbeda. Dulu saya mempertanyakan mengapa saya bisa sakit dan tidak terima karena hidup jauh dari sumber penyakitnya. Sedangkan sekarang, pikiran mendorong untuk menerima dan berfokus pada cara untuk sembuh. Mencari cara sembuh lebih banyak dilakukan dari mempertanyakan. Selain itu, hal terpenting dari menyikapi masalah ialah dorongan dan support. Tentu sangat penting dalam menjaga agar tetap dalam kewarasan. Saya rasa, teman-teman jika memiliki teman atau saudara yang sedang sakit, sekadar bertanya dan mendengarkan keluhannya saya rasa itu sudah cukup untuk membantunya.
Kesalahan dan Acuh
Saya awalnya menyepelekan untuk berobat ke dokter dan juga sedikit takut didiagnosis kambuh. Hal tersebut sangatlah pengecut dan mencoba lari dari kenyataan. Semoga teman-teman dapat bijak, diagnosis lebih awal tentu akan membantu sembuh lebih cepat dan mencegah penyakit menjadi lebih parah. Rasa sesal yang saya alami semoga tidak dialami juga untuk teman-teman.
Tentang Harapan
Berita kematian rekan yang seangkatan banyak berseliweran di media sosial. Hal itu cukup mengguncangkan hati. Harapan yang baru bermunculan, rencana-rencana yang baru dimulai, dan kebahagiaan yang baru bersemi mungkin akan segera layu. Kematian bukanlah hal yang buruk. Ia datang tentu pada waktu yang tepat. Kita diberikan waktu untuk hidup, walau kadang banyak kesia-siaan yang dilakukan. Saya sekarang senang karena beberapa tahun ini, pikiran saya mulai memandang semuanya dengan positif, walau tidak positif-positif amat. Jikalau diberi waktu lebih panjang mungkin kita akan bertemu di tulisan selanjutnya. Semoga sehat selalu… SEMANGAT