{"success":true,"message":"Data has been retrieved successfully.","data":{"id":63,"title":"Tanpa Tujuan dan Hidup","slug":"tanpa-tujuan-dan-hidup","content":"<p style=\"text-align: justify;\">Kebingungan ialah keadaan yang sering mendatangi kita tanpa terkecuali, salah satunya bingung dengan kehidupan. Kebingungan dalam menjalani hidup sering berkaitan dengan arah dan tujuan dari hidup itu sendiri. Saya rasa hampir semua orang pernah bertanya-tanya untuk apa mereka hidup dan mungkin banyak yang tidak menemukan jawaban atau hanya membuat-buat jawaban untuk melewati pertanyaan itu. Mereka yang tidak memastikan tujuan dalam hidupnya mungkin akan dilanda kebingungan, saya salah satu darinya.<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tulisan ini saya akan membagikan sedikit cerita dan perspektif saya untuk kehidupan. Sebuah peringatan, ini hanyalah asumsi dan pandangan, tidak ilmiah dan jauh dari kata keteraturan. Teruntuk mereka yang cerdas bisa berhenti disini lalu menutup halaman ini karena tidak ada isinya.<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa pertanyaan sering terlintas. Mengapa saya hidup? apa yang akan saya capai? akan jadi apa saya beberapa tahun ke depan?. Pertanyaan itu cukup menyiksa kepala, dalam kebingungan dan tanpa jawaban. Saya lahir dari keluarga yang tidak menekankan harus jadi apa serta dilepas untuk memilih kehidupan itu sendiri, kelebihannya saya tidak dibatasi lalu kekurangannya terlalu bebas itu membingungkan karena tanpa orang yang mengarahkan kita akan menerka-nerka jalan yang harus ditempuh. Bahkan pilihan-pilihan yang saya ambil sering diremehkan, bukan orang lain tapi oleh mereka yang terdekat. Awalnya berfikir seperti kebanyakan orang, menyalahkan keadaan dan merasa tidak adil lalu membandingkan dengan mereka yang memiliki banyak support, hingga akhirnya terbiasa lalu berdamai dengan keadaan. Entah hati yang menjadi kuat atau hati perlahan membatu. Barang kali ini yang di sebut dengan adaptasi, semakin kita sering menerima atau melakukan sesuatu kita akan terbiasa seperti kemampuan manusia hari ini, proses kolektif dari pertama kali adam turun ke bumi hingga hari ini, termasuk terbiasa merasakan sakit atau terbiasa memadamkan ego.<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">Entah mengapa setelah bebas dari perkuliahan kehidupan terasa lebih hidup. Gelar dan ego yang semakin membebani pundak dan tidak adanya pencapaian yang bisa dihitung serta umur yang semakin besar nilainya namun semakin memantapkan hingga hari ini tidak menjadi apa-apa. Namun sekarang, entah kapan dimulainya, saya selalu menerima takdir dan tidak pernah menyalahkannya sedikitpun, tapi hanya mencaci maki orang yang terlibat saja hehe. Hanya sedikit, serius benaran sedikit&hellip;<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebingungan akan semakin menjadi-jadi saat kalian ditanya kapan nikah, kerja apa sekarang, atau dibandingkan dengan anak tetangga. Sepertinya hal yang umum jika orang tua atau keluarga berharap dengan anaknya yang sarjana. Jawab seadanya saja, tinggal setelah itu menikmati ovtnya. Tepat setengah tahun berlalu dari kelulusan, saya belum mendapatkan pekerjaan dan menerima beberapa penolakan dari cukup banyak perusahaan. Saya merasa sangat bodoh, tidak memaksimalkan waktu untuk belajar serta tidak fokus dengan apa yang ingin di tuju. Ini adalah jawaban dari apa gunanya punya mentor. Ego kadang membuat kita menyangkal orang-orang yang menasehati atau membimbing, saya juga ingin menyangkal tapi realita memberi keadaan dimana tidak ada yang peduli dan mau menasehati. Setelah itu saya merasa mentor itu sangatlah penting untuk meminimalisir pilihan-pilihan yang di ambil individu yang tidak terlalu berpengaruh dalam hidupnya. Balik lagi dengan merasa bodoh. Jika kondisinya bisa belajar lebih baik dan teratur, harusnya bisa menjawab dengan sangat baik soal-soal test BUMN yang saya lalui. Saya heran, ada yang mengatakan test itu hanyalah formalitas dan sudah ada calonnya, sedangkan mereka yang berkata seperti itu tidak bisa menyentuh peringkat 10 teratas nilai seleksi atau bahkan lebih rendah. Jika kita sudah siap dan bisa menjawab soal dengan terbaik, orang dalam juga akan kalah jikalaupun kita tetap kalah, itu cara tuhan membenarkan jalur hidup yang kita ambil, sudah takdirnya. Jika tidak bisa jadi yang terbaik, sadarlah, kamu hanya bodoh. Jika tuduhan itu terbukti dan niatnya untuk menegakkan keadilan, saya rasa itu sesuatu yang bijak. Namun, tidak banyak yang hanya menggunakannya untuk menutupi kebodohannya, maaf saya memang makhluk kasar bukan makhluk halus.<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelahnya, beberapa test gagal lalu tidak ada lagi peluang karir yang ditunggu. Saya mulai tenggelam dalam kebingungan. Mulai mengevaluasi diri karena tidak belajar lebih banyak dan menyianyiakan waktu saat kuliah, ambisi yang kurang untuk mengejar hidup lebih baik. Untuk apa saya hidup ? setelah ini kemana ? apakah bisa bekerja ? apakah bisa bertahan hidup ?. Tidak satupun bisa terjawab. Kondisi saat itu saya hanya freelance yang menghasilkan 2juta perbulan dan harus membayar hutang yang dibuat orang lain sebesar 900 perbulan serta biaya kos 700 perbulan. Rasa takut membenamkan hari demi hari, namun anehnya saya tetap hidup, tetap bisa makan walau kekurangan, tetap bisa melewati masalah demi masalah, hingga melewati hari tanpa masalah seperti ada yang kurang. Momen itu mengajari saya untuk percaya dengan rezeki dan perlahan mulai berani melawan rasa takut akan hari esok.<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">Hari demi hari berlalu, pribadi yang awalnya masih memiliki rasa takut untuk mengambil resiko semakin bebas dan liar dalam berfikir. Sebuah tawaran datang, menjadi backend developer di bandung dengan gaji 3,4 juta. Peluang, saya yang tidak pernah pergi keluar pulau, cukup berat jika harus mengambil peluang itu dan juga jauh serta tidak ada keluarga satu pun di bandung. Di sisi lain saya tidak ada lagi tujuan. Tidak ada lagi yang di harapkan. Jantung yang berdebar kencang dan adrenaline yang memuncak, saya berangkat ke bandung dengan ongkos sendiri dan buta arah. Pertama kali naik pesawat dan kereta api. Banyak rasa takut yang berterbangan dikepala dan berpadu dengan ragu atas pilihan yang diambil.<!-- notionvc: d3d82179-4986-4637-80d3-db7b4186006d --><\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">Hari pertama bekerja, ternyata deskripsi pekerjaan yang dijelaskan sangat berbeda dengan perjanjian kontrak. Saya tetap mencoba untuk belajar. Ini bagian terbaiknya, setelah saya usahakan untuk belajar, saya memutuskan resign dihari pertama karena bekerja sambil belajar bukanlah hal yang mudah, terlebih lagi hal yang dipelajari minim referensi. Setelah perjalanan jauh, dengan biaya sendiri lalu resign dihari pertama bekerja dengan kondisi uang yang sangat tipis. Pada saat itu saya mulai terbiasa dengan menentukan pilihan-pilihan beresiko dalam hidup. Rasa takut tetap ada, dengan pilihan yang mungkin akan mengecewakan orang tua dan mengancam isi perut kedepannya.<!-- notionvc: 043cfcd8-2113-40e7-8382-b8e9e16a497e --><\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelahnya, pilihan yang di ambil ternyata tidak seburuk resiko yang dipikirkan kepala di awal, walau hari demi hari hanya makan roti tawar untuk bertahan hidup. Hari panjang menganggur di perantauan dan kesepian pun di lalui, 3 bulan berlalu. Kegagalan demi kegagalan mengisi hari-hari yang kosong hingga mencapai akhir mendapatkan pekerjaan remote di jakarta. Saya tersadar, masalah dalam hidup akan selalu ada dan dari masalah itu juga terdapat 2 pilihan, kita menyeselaikannya atau masalah itu akan hilang sendirinya baik karena ketidakmampuan untuk menyelesaikannya atau hilang dan selesai dengan sendirinya, keduanya memiliki kesamaan yaitu mengakhiri, namun akan berbeda pada hasilnya. Jikalau masalah itu terlalu berat dan buntu akan solusinya, saya rasa kita hanya perlu bertahan. Selain kepala dan perasaan akan terbiasa, masalah itu juga akan berlalu. Seperti halnya, di adakannya sebuah awal maka tentu akan ada akhirnya pula.<!-- notionvc: a56b7f39-606b-407f-a649-50d4004562a4 --><\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebingungan kebingungan akan terus menghantui kita, mungkin karena masa depan itu terlalu acak untuk di tebak dan kecenderungan manusia untuk memikirkan hal negatif. Hal itu bukan sesuatu yang kebetulan, melainkan sistem pertahanan hidup yang di bawa turun temurun dari dahulu guna suatu individu mempertahankan hidupnya. Perjalanan, keputusan, dan masalah yang pernah saya lalui mengajarkan banyak hal akan bagaiman menghadapi rasa takut, bertahan dari masalah, dan bagaimana mengatur pikiran untuk berencana. Saya meyakini, kehidupan itu hari ini, bukan besok apalagi kemarin. Jikalau tidak memiliki tujuan hidup seperti saya, setidaknya melakukan hal dengan sebaik mungkin hari ini. Saya tidak memiliki tujuan hidup bukan karena tidak bisa menemukan, melainkan terlalu pesimis dengan kemampuan saya sendiri, jadi saya hanya berfokus pada apa yang bisa saya lakukan dan melakukan dengan baik, jika mampu tentu akan dilakukan dengan terbaik. Memulai sesuatu dari hal kecil, seperti mengubah kebiasaan buruk kecil seperti berbohong, atau membuang sampah. Kadang kita terlalu menyepelekan kesalahan kecil yang kita perbuat, namun menggonggongi kesalahan yang orang lain lakukan.<!-- notionvc: b8d2c336-fda5-4d4f-990c-5ab5aaf810a0 --><!-- notionvc: 15bc29cd-ddb5-42bf-b163-7e8284a17778 --><\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">Hingga sampailah hari ini, jikalau ada yang bertanya akan jadi apa saya beberapa tahun kedepan, saya akan menjawab tidak tahu. Hal itu karena tidak ada rencana pasti. Saya hanya mengambil segala peluang dengan penuh pertimbangan. Akan jadi apa kedepannya, itu bukan kuasa saya, karena saya hanya berjalan di atas takdir yang ditentukan. Tidak ada yang tau bentuk takdir seperti apa, apakah hal mutlak yang sudah di tentukan secara detail ataupun percabangan percabangan yang telah di tentukan lalu di pilih sehingga menjadi serangkaian ketika sampai di akhirnya. Tidak ada yang tahu, maka dari itu saya memilih untuk melakukan apa yang saya yakini itu baik, baik itu dengan cara terbaik maupun sedikit buruk karena rasa malas ataupun hal buruk yang pribadi saya miliki. Maka saya memantapkan untuk berprinsip &ldquo;Hidup adalah Keyakinan&rdquo;.<!-- notionvc: e9b63061-b9b2-4fd7-abd6-ddf0ff97e59a --><\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">&nbsp;<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">Begitulah perjalanan singkat dari saya yang tanpa tujuan hidup menjalani hidup ini. Tidak semua harus bisa ditentukan, jikalau masih bingung jalani saja hingga menemukan nantinya. Sekian isi dari pikiran saya, sampai bertemu dipikiran saya yang lain.<\/p>","category_id":4,"views":59,"likes":0,"status":"publish","created_at":"2024-10-09T02:28:05.000000Z","updated_at":"2026-07-29T08:30:42.000000Z","meta_description":null,"meta_keywords":null,"category":{"id":4,"name":"Pikiran","slug":"pikiran","image":null,"created_at":"2024-08-20T20:50:47.000000Z","updated_at":"2024-08-20T20:50:47.000000Z"},"tags":[{"id":4,"name":"Pengalaman","slug":"pengalaman","created_at":"2024-08-13T06:52:59.000000Z","updated_at":"2024-08-13T06:52:59.000000Z","pivot":{"article_id":63,"tag_id":4}},{"id":5,"name":"Kehidupan","slug":"kehidupan","created_at":"2024-08-22T05:20:13.000000Z","updated_at":"2024-08-22T05:20:13.000000Z","pivot":{"article_id":63,"tag_id":5}}],"image_url":"https:\/\/ivd.my.id\/storage\/images\/article\/Ytkto01gDE.webp","category_name":"Pikiran"}}