{"success":true,"message":"Data has been retrieved successfully.","data":{"id":56,"title":"Kita Tidak Menghargai Sehat","slug":"kita-tidak-menghargai-sehat","content":"<p style=\"text-align:justify;\">Kebanyakan dari kita tidak menghargai sesuatu yang di dapatkan tanpa usaha lebih. Menyepelekan, walau kita tau harga untuk mendapatkannya sangatlah mahal. Satu diantaranya kesehatan. Begitu pula dengan saya, seseorang yang memiliki pikiran bebas dan melakukan apapun yang ingin di lakukan tanpa pikir panjang. Entah mengapa kesehatan tidak ada harganya di setiap hari aktivitas yang di jalani. Kaki yang ringan melangkah, mata yang celang menatap dunia, telinga yang lebar mendengar gosip-gosip, dan paru-paru yang memompa udara tanpa hentinya. Mungkin, kita bukan sebagian orang yang bersyukur di setiap harinya karena telah di beri kesehatan walau tau kesehatan itu sangat mahal bahkan kadang tidak bisa di beli dengan uang dan nominalnya.<\/p>\r\n<p>&nbsp;<\/p>\r\n<p style=\"text-align:justify;\">Tulisan ini bukanlah bermaksud ingin menceramahi apalagi menggurui, di tulisnya pesan-pesan ini tatkala hanya sebagai pengingat untuk saya dan mereka yang dengan rendah hati bersedia membaca serta merenungi. Tak apa hanya sadar saat membaca tulisan ini lalu lupa di esoknya, karena saya percaya otak tidak melupakan informasi baik, suatu saat akan ada masanya ia mengingatkan kita kembali. Sejatinya, pengalaman tidak baik bisa menjadi baik ketika disampaikan sebagai pengingat agar tak ada orang lain yang terjerumus dalam kondisi yang sama. Saya adalah satu dari orang-orang yang tidak peka dengan tubuh dan kondisinya. Mungkin berasal dari kurangnya tuntunan dan didikan terkait pentingnya kesehatan sewaktu kecil hingga tumbuh dewasa. Hal itu membuat saya acuh dengan kesehatan dan sampailah pada keadaan harus berkenalan dengan sebuah penyakit yang katanya sebagian besar pengidapnya meninggal, Tuberkulosis (TB).<\/p>\r\n<p>&nbsp;<\/p>\r\n<p style=\"text-align:justify;\">Penyakit ini biasanya menyerang paru-paru (TB paru), tetapi bisa juga mempengaruhi organ lain seperti tulang, ginjal, atau otak (TB ekstrapulmoner). TB menyebar melalui udara ketika seseorang dengan TB aktif batuk, bersin, atau berbicara, melepaskan bakteri ke udara yang kemudian dapat dihirup oleh orang lain. Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia. Pada tahun 2020, sekitar 1,3 juta orang meninggal akibat TB, dengan angka kematian yang meningkat karena dampak pandemi COVID-19. WHO memperkirakan bahwa TB adalah penyebab kematian kedua tertinggi dari agen infeksi setelah COVID-19 pada tahun tersebut. Di wilayah seperti Afrika dan Asia Tenggara, angka kematian akibat TB tetap tinggi. Pada tahun 2022, di wilayah Mediterania Timur saja tercatat 84.000 kematian akibat TB. Secara global, pria menyumbang sebagian besar kematian akibat TB (53%), sementara wanita 32%, dan anak-anak 16%.<\/p>\r\n<p>&nbsp;<\/p>\r\n<p style=\"text-align:justify;\">Saya tidak merokok, tidak minum-minuman keras, kondisi tempat tidur bersih, mandi 2 kali sehari, pergaulan juga cukup baik dan saya juga seorang yang aktif berolahraga. Tapi, setelah mencari tau tentang penyakit itu, saya merasa tidak adil, dengan kebiasaan saya  yang bisa di bilang cukup baik malah terkena penyakit tersebut. Sakit itu bisa datang kepada siapa saja. Bukan tentang kebiasaan dan pola hidup, tapi juga ada takdir disana. Mungkin akan ada beberapa yang berfikir percuma repot-repot hidup sehat kalau masih juga kena penyakit itu. Apalagi seorang perokok, mereka adalah orang yang mungkin sadar dampak buruk dari merokok. Karena belum merasakan dampak instantnya, jadi mereka akan acuh dan merasa seperti tidak ada efeknya bagi kesehatan mereka. Padahal, kenyataannya bisa saja mereka menjadi penyebab dari sakit yang orang lain rasakan. Berdasarkan logika dasar yang sederhana saja kita bisa mengerti, orang yang menjaga kesehatan saja bisa sakit, apalagi yang dengan sengaja mengkonsumsi penyakit.<\/p>\r\n<p>&nbsp;<\/p>\r\n<p style=\"text-align:justify;\">Penyesalan selalu datang ketika kita dalam masalah. Saat itu saya sangat menyesal dengan kondisi dan situasi yang saya alami. Demam melanda setiap harinya bahkan untuk berfikir saja sangat sulit rasanya. Bayangkan setiap malamnya selama 6 bulan harus demam tinggi. Hari-hari harus mengkonsumsi 4 buah obat sebesar jari kelingking yang mana setelahnya kepala seperti berat dan sulit untuk berfikir. Saat itu saya masih berada di semester 2, yang mana banyak-banyaknya kegiatan kampus dan adaptasi perkuliahan yang lumayan berat. Selain rasa sakit, mental juga terguncang dengan kondisi dan harapan sembuh yang rendah. Tak jarang batuk darah keluar dari paru-paru seperti mengisaratkan ajal semakin dekat. Saya hanya dapat menahan dan tertawa jika seandainya harus mati konyol dengan penyakit yang tidak tau datang entah dari mana. Cara paling ampuh untuk mengajari manusia akan pentingnya kesehatan ialah ketika dia di ambang kematian, setidaknya itu yang saya rasakan.<\/p>\r\n<p>&nbsp;<\/p>\r\n<h4 style=\"text-align:justify;\"><strong>Bagaimana saya bisa bertahan ?<\/strong><\/h4>\r\n<p>&nbsp;<\/p>\r\n<p style=\"text-align:justify;\">Saat itu saya hanya menjalani hidup yang tidak tau ujung rasa sakit sampai kapan dengan teratur mengkonsumsi obat selama 6 bulan di jam yang sama tanpa terlewat seharipun. Saya juga membatasi bertemu dengan teman-teman karena takut menularkan. Namun, ada hal yang menjadi penguat di saat mental sedang down, beberapa teman kuliah seolah tidak ingin mengasingkan dan tetap memberikan support kepada saya. Untuk siapapun dan dimanapun, bisa jadi support dan ucapan semangat bisa membawa orang yang sekarat bisa bangkit merebut kembali sehatnya.<\/p>\r\n<p>&nbsp;<\/p>\r\n<p style=\"text-align:justify;\">Malam-malam panjang yang di temani demam tinggi, sewaktu SMA saya senang riset tentang tanaman obat alami, salah satunya bawang putih yang sudah terkenal khasiatnya. Saya mencoba membuat bubur nasi dengan banyak bawang putih di dalamnya. Resep itu ternyata sangat membantu, bahkan instant menurunkan panas dan bisa membuat tubuh sedikit tentang walau sendi tetap seperti ingin lepas satu sama lain. Sedikit info, bawang putih memiliki sejumlah khasiat yang telah diteliti dalam konteks pengobatan TB (Tuberkulosis). Berdasarkan beberapa riset, senyawa aktif dalam bawang putih, seperti allicin, memiliki sifat antibakteri, antimikroba, dan antiinflamasi yang bisa membantu melawan infeksi bakteri, termasuk Mycobacterium tuberculosis, bakteri penyebab TB. Namun tetap, bawang putih tidak dapat menggantikan pengobatan medis standar untuk TB, tetapi dapat menjadi suplemen tambahan yang mendukung pengobatan utama.<\/p>\r\n<p>&nbsp;<\/p>\r\n<p>Sedikit ringkasan sensasi yang saya rasakan selama 6 bulan pengobatan dan setiap harinya, yaitu<\/p>\r\n<p>- Dada keram dan susah untuk bernafas, di temani batuk seperti altet beatbox<\/p>\r\n<p>- Batuk darah yang membuat pikiran melayang serasa makin dekat dengan tuhan<\/p>\r\n<p><span style=\"color: rgb(174,183,192);background-color: rgb(36,48,63);font-size: medium;font-family: Nunito, sans-serif;\">- <\/span>Sendi sakit, karena asam urat naik dimana umur masih muda seperti orang tua<\/p>\r\n<p>- Kepala pusing kadang pikiran tiba tiba kosong, apalagi waktu matakuliah kalkulus.<\/p>\r\n<p>- Pesimis untuk Hidup, saking seringnya terlintas pikiran meninggal, dark jokes semakin terasa lucu<\/p>\r\n<p>&nbsp;<\/p>\r\n<p style=\"text-align:justify;\">Begitu mahal rasanya untuk kembali mendapatkan sehat, padahal dulu saya tidak perlu seribet seperti saat pengobatan TB untuk menjaga kesehatan. Saya sadar dan sadar yang real no fake fake,  sehat itu berharga karena sulit untuk mendapatkannya, padahal dulu bisa di dapat dengan cuma-cuma. Mungkin tidak salah jika menyimpulkan kalau banyak dari kita tidak menghargai sesuatu yang di dapat tanpa usaha lebih, walau hal itu sangat mahal bahkan tidak dapat di beli dengan uang dan nominalnya.<\/p>\r\n<p style=\"text-align:justify;\">&nbsp;<\/p>\r\n<p>Saya rasa perlu halnya untuk menyampaikan pengalaman ini agar kita bisa mengukur sejauh mana kita menghargai sesuatu yang tuhan berikan dengan cuma-cuma. Menyadarkan diri dengan  mengerti serta membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Merendahkan ego untuk menerima fakta baik buruk suatu hal (Bahaya Merokok). Saya tidak bermasalah dengan orang yang merokok, hanya mengingatkan saja.<\/p>\r\n<p style=\"text-align:justify;\">Sekian pikiran singkat saya, sampai bertemu di pikiran saya yang lain.<\/p>","category_id":4,"views":50,"likes":0,"status":"publish","created_at":"2024-09-08T06:18:48.000000Z","updated_at":"2026-07-29T08:30:43.000000Z","meta_description":null,"meta_keywords":null,"category":{"id":4,"name":"Pikiran","slug":"pikiran","image":null,"created_at":"2024-08-20T20:50:47.000000Z","updated_at":"2024-08-20T20:50:47.000000Z"},"tags":[],"image_url":null,"category_name":"Pikiran"}}